Published On: Sel, Mei 16th, 2017

Listrik Tenaga Surya Untuk SAD Sarolangun

 

JAMBI- Warga Suku Anak Dalam (SAD) Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sungai Surian Desa Pulau Lintang Kecamatan Bathin VIII Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi diberikan listrik penerangan tenaga surya atau solarcell oleh Kementerian Sosial RI.

Pemberian barang tersebut, bagian dari rangkaian kunjungan Menteri Sosial (Mensos) RI Khofifah Indar Parawansa ke daerah tersebut, Selasa.

Mensos mengatakan pemberian tersebut berawal saat ia berbincang dengan anggota SAD, tentang bagaimana saat ini mereka sudah memiliki rumah tinggal dan saat itu mereka juga bercerita menginginkan penerangan listrik dilingkungannya.

“Maka saya berkomunikasi dengan teman saya yang kebetulan punya program solarcell, jadi ini adalah CSR dari yayasannya beliau Dwiyuna Jaya Foundation yang akan membantu solarcell khusus suku anak dalam dan komunitas adat terpencil,” katanya.
Ia mengatakan Kenapa ia minta solarcell, karena ia tidak bisa membayangkan kalaupun bisa ditarik kabel listrik kelokasi pemukiman mereka harus bayar bulanan, andai mereka lupa atau mereka tidak bisa bayar akan diputus listriknya.

Selain itu katanya. Solarcell ini tahan delapan sampai sepuluh tahun, bayangan pihaknya ini pasti akan jauh lebih maju sehingga diharapkan andaikan nanti dilanjutkan dengan solarcell ya, bagus. “Andai dilanjutkan dengan PLN maka kemungkinan daya beli mereka juga sudah meningkat,” kata Mensos.

Ia menjelaskan. Berikutnya setelah listrik, ia meminta kepada tim pemberdayaan sosial akses jalan, akses jalan ini ia anggap penting untuk membangun interaksi dan komunikasi serta konektifiti.

“Anak – anak mereka harus sekolah sehingga kalau ada jalan seperti sekarang harapan saya mereka akan lebih termotivasi untuk belajar, karena tidak ada alasan untuk bolos karena sulitnya mereka menjangkau layanan Pendidikan,” jelasnya.

Dikatakan Khofifah, Selanjutnya yang dibutuhkan adalah kehadiran Posyandu, hal tersebut supaya layanan kesehatan relatif mereka bisa terjangkau serta tidak harus keluar komunitas dan lingkungannya.
Ia menilai Bayi balita disini itu membutuhkan layanan tidak hanya imunisasinya, tapi juga timbang badannya, cek gizinya termasuk pemberian makanan tambahan.

“Waktu saya kesini saya terenyuh dan betul-betul meneteskan air mata karena mereka bisa menyanyikan tidak hanya lagu indonesia raya, tidak hanya hapal pancasila tapi lagu-lagu wajib ternyata mereka banyak sekali hapal,” katanya.

“Maka saya tanya anak – anak ini, mesti kalau dari sisi kemungkinan tidak punya akte kelahiran, jadi saya minta diurus akte kelahirannya, mungkin secara bertahap nanti yang belum sekolah pun sudah harus disiapkan akte kelahirannya,” katanya.

Selanjutnya ia menyebutkan bahwa, Kira – kira Nanti seperti itulah supaya pemberdayaan terhadap komunitas adat terpencil itu akan berseiring dengan akses pendidikan, akses kesehatan dan termasuk adalah akses ekonomi. (Yanto)