Liputanjambi.com TANJAB BAARAT – Sebagian orang di Indonesia khususnya umat muslim Suku Jawa, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran begitu sangat identik dengan tradisi mudik, halal bihalal, makan ketupat, hidangan kue lebaran dan termasuk saling bersilaturahmi antar sesama.

Surnato (64 ), seorang Suku Jawa yang tinggal di Parit Ijab Ujung Rt,03,Kec. Sebrang kota, Kab Tanjung Jabung Barat,Provinsi Jambi, mengatakan, dalam tradisi atau budaya orang Jawa, usai menunaikan Salat Id Hari Raya Idul Fitri, para orang Jawa langsung melakukan silaturahmi  ke antar sesama termasuk sanak keluarga.

Menjelang lebaran juga dilakukan kenduri sebagai syukuran Hari Raya. Biasanya digelar di hari terakhir Ramadan atau pasca sholat Idul Fitri. Beragam hidangan lezat akan dibawa ke masjid dan dibagikan pada semua yang hadir.

Nilai positif tradisi ini adalah meningkatkan kerukunan antar warga. Selain itu juga membuat suasana Idul Fitri terasa semakin meriah.

Sungkeman adalah ritual memohon maaf dengan segala kerendahan hati pada orang tua atau sosok yang lebih senior di keluarga. Tradisi ini memiliki makna mendalam, seperti penghormatan, penyadaran diri akan kebaikan, dan bertujuan membuat hati menjadi damaian.

Sungkeman biasanya dilakukan pada keluarga terdekat lebih dulu, sebelum ke sanak saudara lainnya. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan tradisi silaturahmi, keliling mengunjungi saudara lebih tua.

“Namun, untuk yang pertama-tama, kami akan mengunjungi orangtua masing-masing guna meminta maaf dan ridhonya,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya.

Selain mengunjungi orangtua, dalam budaya orang Jawa, orang yang lebih muda juga biasa akan mengunjungi orang yang lebih tua atau dianggap tua Tokoh agama maupun masyarakat,” terangnya.

Biasanya,  dilakukan hingga dalam kurun waktu lima hingga tujuh hari terlepas dari Salat Ied Hari Raya Idul Fitri. Dan untuk hari pertama, Badan dilakukan kepada orangtua serta kepada para tetangga dekat.

“Setelah selesai kepada orangtua dan keluarga maupun tetangga dekat, kemudian Badan baru dilanjutkan kepada sanak keluarga yang jaraknya berada lumayan jauh atau berbeda kampung dan desa,” jelasnya.

“Dalam tradisi, selain meminta maaf dan ridho, bisanya juga digunakan untuk bercanda gurau serta menanyakan kabar kepada masing-masing. Terutama yang memang tidak tinggal di kampung atau yang baru mudik dari daerah lain maupun provinsi lain,” (Ari)