Menjelang Pemilukada Purwakarta, Sabtu 15 Desember 2012, hingga kemarin belum satupun pasangan calon bupati dan wakil bupati (cabup/cawabup)dari tiga pasangan calon yang ditetapkan KPUD setempat mengklaim optimis akan menang dalam satu putaran hajat demokrasi lima tahunan itu.

Namun bisa jadi belum munculnya statemen dari setiap pasangan calon ini dikarenakan menghindari asumsi publik atas pandangan prematur serta sikap ejakulasi dini politik selain cuma akan membesarkan kepala. Meskipun pada kenyataannya, saat ini analisa telah bergulir lama kalau elit politik maupun unsur masyarakat Purwakarta membahanakan bahwa salah satu pasangan calon masih akan menang secara mulus tanpa kendala dalam helatnya nanti.

Hitungan analisa publik di Kota Tasbeh tersebut masih bisa dimungkinkan masuk diakal lantaran figur cabup/cawabup yang muncul masih merupakan muka-muka lama. Kalaupun muka baru, elaktabiltas figurnya belum semerbak wewanginya hingga di seantero Purwakarta yang memiliki 17 kecamatan dan 192 desa itu.

Lalu mengapa masuk di akal? Analisa publik menilai itu karena asumsi perbandingan start pembangunan masing-masing figur calon atas penciteraan politiknya yang tidak digelar serempak. Ada satu calon pasangan disebut-sebut sudah memupuk elaktabilitasnya sejak 4 tahun yang lalu, ada pula kabar jika satu pasangan calon lainnya telah menggarap prestasi publiknya sejak 8 tahun lalu. Lainnya yaitu karena pandangan terhadap pasangan calon yang memang diusung koalisi partai berpotensi suara mumpuni.

Terlepas dari itu, masyarakat Purwakarta tetap berharap siapapun pemimpinnya terpilih kemudian bisa membawa Purwakarta lebih baik. “Sekarang sudah baik, kedepaan harus bisa lebih baik,” ungkap Ujang, seorang mahasiswa swasta di kabupaten ini.(HOKi)