Jakarta-LJ sektor pertambangan merupakan salah satu segmen yang paling penting dalam perekonomian Nasional kita dan telah memainkan peran penting dalam pembangunan sosial ekonomi negara.

Selain kontribusinya dalam hal pendapatan, sektor ini juga bertindak sebagai prime-mover untuk pembangunan daerah, sumber bahan baku, sumber energi, dan sumber pekerjaan, yang menyebabkan multiplier effect ekonomi lainnya.

Mineral dan batu-bara sebagai salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Di Indonesia, harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan kontribusi yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia.

Dalam hal ini, pemerintah dan bisnis di sektor pertambangan diharapkan dapat bekerja sama untuk mengelola sumber daya mineral dan batubara dengan prinsip-prinsip konservasi, pengelolaan lingkungan, serta memberikan nilai tambah. Sehingga sektor pertambangan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat.

Saat ini, negara kita memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif dan menerima investment grade dari perspektif Internasional. Sektor pertambangan masih menghadapi beberapa tantangan, yaitu konflik dengan masyarakat setempat, tumpang tindih masalah lahan, penerbitan berlebihan izin pertambangan, masalah lingkungan, sengketa pemogokan divestasi, dan tambang pekerja.

Dalam skala makro, ada juga beberapa masalah utama di sektor yang masih belum terselesaikan, yaitu negosiasi ulang kontrak pertambangan, rekonsiliasi IUP, mineral nilai tambah, dan pertambangan zona (WP) pendirian. Oleh karena kurangnya koordinasi dan komunikasi komprehensif antara stakeholder terkait dan badan-badan, mengakibatkan masalah-masalah seperti di sektor ini sulit untuk diselesaikan.

Sebagai bagian dari pemangku kepentingan pertambangan, kita harus memberi perhatian besar terhadap isu-isu tersebut di atas.
Batu-bara Nasional dan kebijakan mineral menuju pertambangan berkelanjutan di Indonesia.

Optimasi sektor pertambangan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat. Kontribusi sektor pertambangan berpengaruh terhadap ekonomi Nasional. Kontrak Re-negosiasi yang dilakukan merupakan kepentingan Nasional dan masa depan industri pertambangan. Tantangan Investasinya dan peluang di Indonesia, yaitu mencari terobosan birokrasi yang mengoptimalkan mineral dan batu-bara manajemen sumber daya.

Sinkronisasi kebijakan industri dengan investasi di industri hilir berasal dari sektor pertambangan (termasuk tantangan dan peluang investasi). Batu-bara pelaksanaan DMO untuk mendukung kebutuhan pasokan batu-bara domestik. Prospek bisnis pertambangan pelayanan adalah investasi peluang tantangan di sektor pertambangan layanan bisnis.

Pemerintah masih mengijinkan adanya ekspor batu-bara yang dilakukan produsen. Ketentuan ekspor bisa dilakukan jika kebutuhan domestik telah terpenuhi.

Menurut Menteri ESDM Jero Wacik , pemerintah dalam waktu dekat belum akan membatasi atau melarang ekspor batu-bara. Saat ini ekspor batu-bara di Indonesia masih cukup besar, yakni 75% dari total produksi.

Pemerintah mengajak pengusaha batu-bara yang selama ini hanya fokus berbisnis batu-bara agar ikut mengembangkan sumber energi terbarukan, seperti panas bumi, biomass, nabati, dan tenaga air.

Hal lainnya tentang porsi penggunaan batu-bara dalam kebijakan bauran energi di Indonesia masih tinggi, yakni mencapai sebesar 24,5%. Sementara porsi energi baru dan terbarukan (EBT) baru 5,7%. Dalam target bauran energi 2025, seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006, lanjut Jero Wacik, peran minyak bumi pelan-pelan diturunkan jadi sekitar 23%, peran gas 20%, batubara 30,7%.

Cadangan batu-bara Indonesia saat ini sebesar 28 miliar ton atau sekitar 3% dari total cadangan batu-bara dunia. Sementara, total sumber daya batu-bara Indonesia mencapai 161 miliar ton, meningkat dari status tahun 2010 sebesar 105 miliar ton.(kbi.com)