Setelah melalui serangkaian prosesi pemberian gelar, Puncaknya bertempat di Gedung Balai Adat Kota Jambi, Senin (26/11), berlangsung kegiatan pengukuhan dan pemberian gelar adat serta karang setio kepada tokoh masyarakat dan pengurus lembaga adat melayu negeri tanah pilih pesako betuah Kota Jambi 2012. Dimana secara umum persyaratan pemberian gelar ini diatur dengan ditentukan dalam suatu kerapatan yang mempunyai tugas atau menerima tugas untuk hal tersebut, oleh ninik mamak, tuo tengganai atau kepatihan dan lainnya. Acara pemberian gelar tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Tanah Pilih Pesako Betuah Kota Jambi Drs. H. Azra’i Al-Basyari

Adapun yang menerima gelar dan karang setio untuk tahun 2012 ini berjumlah 12 orang, diantaranya Walikota Jambi dr. HR Bambang Priyanto dengan gelar Datuk Adipati Mangun Budayo, Ketua DPRD Kota Jambi H. Zainal Abidin, SE dengan gelar Datuk Penghulu Mangku puro, Sekretaris Daerah Kota Jambi Ir. H. Daru Pratomo dengan gelar Datuk Temenggung Salam Buku, Nawawi Ismail dengan gelar Datuk Mangku Setio Pengembiro, Tabrani Kasim, SH dengan gelar Datuk Mangku Suko Setio, Ibrahim Taher, BA dengan gelar Datuk Setio Manggalo Agamo, Drs.M. Syarnubi Damay dengan gelar Datuk Depati Setio Alam, Agustiar dengan gelar Datuk Rio Suko Negeri, M. Fauzi Kadir, SE dengan gelar Datuk Rio Tanum Setio Negeri, H. Tarmizi Ibrahim dengan gelar Datuk Penghulu Setio Agamo, Mukhlis A. Muis, S.Sos dengan gelar Datuk Penghulu Pemangku Rajo dan M. Nasir Umar dengan gelar Datuk Penghulu Pasak Negeri. Kepada ke 12 penerima gelar tersebut dilakukan penyisipan/pemasangan “keris” di pinggang, sebagai salah satu kelengkapan sebagai pertanda pengukuhan Adat.
Melalui kegiatan pengukuhan dan pemberian gelar adat tersebut, Walikota Jambi menyampaikan memang tidak mudah untuk menggait barang yang hanyut, membangkit batang terendam, mencari barang yang hilang, tapi setidak – tidaknya dengan formulasi tentang pemberian gelar dan karang setio oleh lembaga adat melayu Tanah Pilih Pesako Betuah Kota Jambi, berarti kita telah berusaha untuk memiliki suatu referensi tentang salah satu bagian dari adat istiadat dan budaya melayu Kota Jambi. Setiap usaha untuk mengkondisikan beberapa ketentuan adat, sudah selayaknya kita hargai karena budaya tutur sapa semakin mengendap oleh berbagai perkembangan budaya asing.(hms)