Gubernur Jambi, H Hasan Basri Agus (HBA), Wakil Gubernur (Wagub) H Fachrori Umar, Asisten Bidang Ekbang dan Kessos Pemprov Jambi Ir Haviz Husaini MM dan sejumlah pejabat eselon II Pemprov melakukan dialog membahas soal daging aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), di Desa kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi. Acara dialog yang dilanjutkan dengan panen sapi Bali itu dihadiri pula oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Ahmad Junaidi.

Dalam wawancaranya HBA menginginkan masyarakat mengerti mengenai daging yang sehat dan toyyib serta juga memperlakukan ternak yang baik akan mempengaruhi kualitas daging. Masyarakat juga harus mengerti cara memotong yang baik, sehingga daging yang dipotong halal.

Melihat usaha peternakan yang dilakukan masyarakat Desa Kasang Pudak, HBA merasa yakin Jambi akan aman terhadap pangan dan melepaskan diri dari ketergantungan pasokan luar. Kalau saja semua daerah berfikir seperti itu, kebutuhan pangan di Jambi bakal tercukupi.

Direktur Kesmavet dan Pasca Panen, Ahmad Junaidi menjelaskan, ketahanan pangan harus memenuhi syarat dan kualitas sehat konsumsi. Bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya, agar tidak mengandung penyakit.

Junaidi menyatakan sangat mendukung integrasi sapi dan sawit (sasa). Bagaimana mencukupkan tanah air dengan sapi sendiri. Indonesia kurang mengoptimalkan potensi dalam negeri. Buktinya, kedele tidak ada sedikit saja, sudah susah dibuatnya. Ia berharap integrasi sasa yang sedang dilakukan di Jambi menjadi contoh daerah lain.

Bupati Muaro Jambi, H Burhanuddin Mahir, menyebutkan, kondisi Kabupaten Muaro Jambi sangat cocok untuk integrasi sapi dan sawit. Di daerah itu ada 130 ribu hektar kebun kelapa sawit yang bisa dibuat integrasi sapi dan sawit. Jika dua sapi bisa untuk satu hektare, maka kebutuhan daging bisa teratasi.