KBRI Singapura kembali berhasil membebaskan Nurhayati, seorang WNI dari hukuman mati di Singapura. Tepatnya, KBRI Singapura di bawah Duta Besar Andri Hadi, bersama tim penasehat hukumnya, pada saat ini, telah berhasil membebaskan status dari tuntutan hukuman mati tersebut.

Demikian disampaikan PLE Priatna, Direktur Informasi dan Media – Kemenlu, di Jakarta (11/7/2012).

KBRI Singapura telah meneruskan keputusan Jaksa tersebut kepada pihak keluarga Nurhayati di Indramayu. Pihak keluarga juga dijadwalkan untuk dapat menemui Nurhayati, sebelum sidang lanjutan, yang akan digelar pada tanggal 17 Juli 2012 mendatang.

Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Singapura telah menurunkan tuntutan kepada Nurhayati, WNI di Singapura, yang diancam hukuman mati itu — karena didakwa membunuh anak majikannyayang berumur 12 tahun ini — berubah menjadi hukuman penjara selama 20 tahun atau maksimal penjara seumur hidup (Section 304(a) Chapter 224 Penal Code).

Duta Besar RI untuk Singapura, Andri Hadi menyampaikan bahwa sekalipun KBRI Singapura menghormati proses hukum yang sedang berjalan, Pemerintah RI akan terus memberikan pendampingan yang terbaik bagi Nurhayati.

Di tengah proses hukum yang sedang berlangsung, Pemerintah RI dengan bantuan Satuan Tugas penanganan kasus WNI/TKI yang terancam hukuman mati itu, menuntut agar tuntutan 20 tahun itu, dapat diturunkan hukumannya, menjadi maksimal 10 tahun, sebagaimana Penal CodeSection 304(b) (culpable homicide not amounting to murder) dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Permohonan keringanan itu juga, didasarkan atas pertimbangan bahwa Nurhayati ketika itu,masih berusia 16 tahun, dengan