Oleh : Asef Umar Fakhruddin”

headline

Permasalahan agama merupakan permasalahan yang paling sensitif. Parahnya, tidak sedikit kelompok atau organisasi melakukan aksi-aksi vandalisme dengan legalisasi ajaran agama. Hal ini tentu saja memperburuk citra agama. Padahal, agama diturunkan sebagai payung kehidupan.
Sebaliknya, saat ini, justru terjadi banyak ironi. Betapa tidak, pada banyak negara di dunia, agama justru dijadikan dalih melakukan aksi-aksi kekerasan. Begitu juga di Indonesia. Pengalaman tragis beberapa waktu lalu-pembunuhan dan kekerasan atas nama agama-tidak boleh terulang kembali. Sudah waktunya bertangkup kearifan dihamparkan di atas permadani negara-bangsa Indonesia dan bahkan dunia.

Sejatinya, inti setiap ajaran agama adalah perintah menebar kebajikan dan kebijaksanaan. Jika demikian halnya, apa yang salah terhadap pemahaman akan agama kita, sehingga agama menjadi penyebab dan pembenar aksi-aksi brutal-amoral dan amanusiawi itu?

Demikianlah fenomena yang sedang menggelayuti negara-bangsa ini. Maka, tidak mengherankan apabila banyak orang mengalami skyzofrenia dan phobia terhadap agama. Menjauhnya mereka, selain karena banyak pemeluk agama yang hanya menjadikan ritual keagamaan tidak lebih sebagai liturgi seremonial belaka, juga lantaran asumsi bahwa agama cenderung mengajarkan kekerasan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita melakukan introspeksi terhadap kedirian dan keberagamaan kita. Sebab, hal itu merupakan sebuah kemendesakan. Jika pusparagam masalah yang mengimpit Indoensia tidak segera diatasi, dikhawatirkan “kapal” besar bernama Indonesia ini akan segera karam, dan tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi.

Keberagama(a)n

Sudah saatnya kita menekankan dalam diri betapa penting dan fundamental kerukunan, perdamaian, persatuan, dan kebersahajaan itu. Bangsa ini sendiri lahir dari semangat dan gelora jiwa yang ingin agar Indonesia menjadi negara yang besar, beradab, dan berbudaya. Denyar-denyar jiwa yang kemudian diaktualisasikan dengan mendirikan bangsa ini adalah untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan rakyat, sekaligus dunia.

Meski berbeda agama, aliran, bahasa, ras, tradisi, warna kulit, dan paradigma, sudah saatnya kita bersemangat duduk dengan kepada dingin dan hati yang bening, kemudian membahas masa depan Indonesia. Pasalnya, bangsa Indonesia sedang berada di tubir jurang kehancuran. Semangat dan kesediaan untuk duduk bersama mencari solusi alternatif merupakan pranata membangun Indonesia.

Jika pun masalahnya adalah perbedaan agama dan juga pemahaman terhadapnya (yang kemudian memunculkan sudut pandang baru atau bahkan aliran baru), seyogyanya hal itu disikapi dengan tenang. Agama mengajarkan agar para pemeluknya mewujudkan kebersamaan dan kemajuan. Jika pun terjadi konflik, agama mengajarkan peacefull conflict resolutions. Islam sendiri mengidealkan sense of unity sebagai warga dunia. Disebut muslim karena he or she surenders to the will o f Allah and is an estabilisher of peace.

Sejalan dengan Buddha, Islam secara implisit mengajarkan bahwa nasionalisme jangan sampai mengorbankan kemanusiaan universal. Salam (perdamaian dan kesejahteraan) tidak terbatas kepada mereka yang seagama saja, tetapi untuk seluruh penghuni persada ini.   Buddha, misalnya, mengajarkan dengan to be in harmony with others, you must be at peace with yourself. Buddha mendambakan sebuah global village, di mana human familiy mewujud. Dia juga menekankan bahwa nasionalisme tidak boleh mengorbankan universalisme.

Agama Kristen juga mengajarkan tentang cinta kasih. Dalam ajaran Kristen dikatakan bahwa umat Kristiani tidak dapat membatasi visi mereka kepada bangsa mereka semata, tetapi harus menyebarkan perdamaian di tingkat internasional (a community of nations). Mereka, umat Kristiani, harus menolak pembunuhan etnis dan budaya, juga harus menolak perlombaan senjata (Muhammad Ali: 2004).

Rabbi Yahudi, Akiba, yang terbunuh oleh Romawi pada 132 M, juga mengajarkan bahwa perintah “Cintailah tetanggamu seperti kau mencintai dirimu sendiri” merupakan “prinsip utama Taurat” (Karen Armstrong: 2007). Pendek kata, semua agama mengajarkan perdamaian dan penghargaan akan keberagama(a)n.

Perubahan

Memahami agama secara parsial merupakan kesalahan. Maka dari itu, sudah saatnya kita berubah. Kita harus mengkaji lebih dalam esensi ajaran agama kita masing-masing: terus belajar dan berusaha sekuat daya untuk memahami pesan-pesan Tuhan. Sudah saatnya kita melakukan kontemplasi-diri, merenungkan sangkan paran kita (di)ada(kan). Kontemplasi ini akan mampu merobek-robek keangkuhan diri yang selama ini bertengger di pikiran dan hati kita.

Dengan demikian, kita dituntut untuk memahami semua hal secara holistik dan universal. Selama ini kita acapkali terkungkung oleh kesombongan dan hipokritisme. Para pendiri bangsa ini mewanti-wanti agar kita senantiasa menganggap seluruh warga negara-bangsa ini sebagai saudara, yang dalam Islam disebut ukhuwah wathaniyah. Bahkan, kita juga harus menghargai semua manusia (ukhuwah basyariyah). Karakter seperti inilah yang seharusnya melekat dalam diri kita.  

Apalagi bisa dikatakan bahwa 100% penduduk Indonesia beragama. “Potensi” ini harus dimaksimalkan dengan perilaku-perilaku yang baik dan bermanfaat. Agama sendiri mengajarkan kita untuk berpikir dan berperilaku bajik dan bijak. Meskipun, sebagaimana sifat manusia dan kehidupan, pemahaman terhadap agama pun senantiasa mengalami evolusi. Evolusi ini, dedah Robert N. Bellah, yang berwujud pada keberagamaan manusia itu berjalan sesuai dengan tingkat perkembangan kebebasan dan situasi masyarakat yang mengelilinginya.

Fokus utama evolusi keagamaan sendiri merupakan sistem simbol keagamaan itu sendiri. Maksudnya, arah utama perkembangannya adalah simbolisasi dari yang sederhana menjadi simbolisasi terdiferensiasi. Evolusi dari agama primitif menuju agama historis dan kemudian berkembang menjadi agama modern adalah contoh bagaimana agama berubah dari pengaruh situasi kekuasaan okultis yang bermetamorfosis dengan keyakinan yang bersifat rasional. (A. Fuad Fanani: 2004).

Akan tetapi, evolusi tersebut bisa diatasi apabila kita bersedia belajar dan menghargai perbedaan. Dalam terang perkembangan dan peradaban yang ada seperti sekarang, kita dituntut untuk melakukan perubahan paradigma dan laku sosial, yaitu menjadi pribadi religius-humanis-transformatif. Pribadi religius-humanis-transformatif atau pribadi yang mampu menyeimbangkan antara saleh ritual dan saleh sosial inilah pribadi ideal. Pribadi semacam itulah yang saat ini kita butuhkan.

Dengan mendalami substansi dan esensi keberagama(a)n-yang termanifestasikan dengan perubahan rasa, pikir, dan laku-maka kita akan bisa melakukan transfigurasi. Melalui transfigurasi tersebut, kita berharap agar konformitas kehidupan ini akan terus lestari. Jika diimpelentasikan untuk Indonesia, pemahaman atau pendalaman terhadap keberagama(a)n itu akan membuat Indonesia akan merengkuh kemajuannya. Perubahan tersebut merupakan sebuah kelabudan. (*)

Penulis: dosen dan peneliti di Pusat Studi Sosial dan Rekayasa (PUSAR) IKIP Veteran Semarang