Mas Miko – detikNews”

Jakarta Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki lahan yang cocok untuk pertanaman karet dan sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton.

Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong dan tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.

Tetapi kondisi 85% belum memadahi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemasaran masih ditentukan oleh ‘toke’ atau ‘tengkulak’.

Padahal peraturan daerah sudah memberikan kesempatan kepada Koperasi untuk berperan, tetapi kondisi tersebut belum memberikan solusi, padahal rata-rata satu orang anggota memiliki 1,5 hektar lahan perkebunan karet.

Harga karet di tengkulak berkisar Rp 6.000 s/d Rp 9.000/kilogram, sementara di pasar lelang karet berkisar sampai Rp 9.000 s/d Rp 10.000, sementara beberapa permasalahan yang ada seputar budidaya karet sangat variatif dan sangat menentukan prioritas pembangunan pertanian bagi suatu negara.

Mengapa saya menyebutkan hal tersebut? Ada beberapa alasan yang sangat fundamental, yang bisa mewakili semua itu. Antara lain luas lahan, pengelolaan selama masa vegetatif, posisi sumber daya manusia.

Mungkin masih banyak lagi alasan yang sangat menyokong pembangunan ibu pertiwi melalui pengembangan pertanian di bidang perkebunan karet.

Padahal luas lahan perkebunan karet Indonesia sekitar 3,5 juta. Sementara itu untuk luasan lahan karet yang ada di Thailand menempati posisi kedua (2 juta), sedangkan Malaysia (1,3 juta).

Luasan lahan tersebut sebisa mungkin diimbangi dengan produktivitas komoditas yang terus dikembangkan. Keadaan titik produktivitas tersebut jauh dari yang diharapkan oleh beberapa stakeholders maupun masyarakat tani yang ada.

Mungkin sebagian gambaran yang telah dipaparkan adalah bentuk teknis budidaya. Sementara itu dari segi pengelolaan (maintenance) selama fase vegetatif jarang sekali diperhatikan, sehingga produktivitas hingga kualitas tanaman karet Indonesia sangat jauh dari yang diharapkan meskipun masuk kepada ‘big three’ di bidang budadiya karet.

Permasalahan yang Jarang Diperhatikan

Biasanya dalam mengelola kebun karet, petani maupun para praktisi yang bergerak di bidang tersebut sangat jarang memperhatikan keadaan karet secara menyeluruh.

Setelah ditanam, karet dibiarkan tumbuh begitu saja, sementara segi perawatan jarang diprioritaskan lebih lanjut.

Apabila terdapat tanaman tua, serigkali jarang diremajakan dengan klon baru. Ironisnya klon baru yang mampu menghasikan kualitas karet yang berbobot masih jarang.

Sekarang perlu dipertanyakan mengapa luas 85% milik rakyat tidak bisa mengusai pasar lokal maupun eksport, justru perusahaan besar milik asing yang mendominasi perkaretan Indonesia.

Nampaknya dinas terkait perlu memperhatikan komoditas unggulan Indonesia, agar dapat menambah devisa Negara.

Mas Miko
Jl Lapangan Ros, Jakarta Selatan
miko.corporation@gmail.com
021-8292755

(wwn/wwn)