IMG-20121124-00609Lj.Com, Buruh tambang khususnya yang bekerja pada sector angkutan merasa dirugikan dengan pemberlakukan Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2012 yang menyatakan bahwa mulai 1 September 2013 mobil barang angkutan perkebunan dan pertambangan dilarang menggunakan BBM Subsidi.

“PERMEN (Peraturan Menteri) ESDM No.12 Tahun 2012 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak tersebut bersifat diskriminatif karena hanya berlaku untuk industri dan perkebunan kelapa sawit dan tambang,” kata Fadhil dari GAPKI dalam siaran pers, Jumat (31/8/2012) sebagaimana dikutif dari detik.com.

“kami sangat dirugikan, mobil kami nih tidak untuk ngangkut batu bara tapi ngangkut tanah galian, tapi karena bentuknya dumtruck disangko orang Pom, ini mobil tambang, jadi dak biso ngisi solar” ungkap seorang sopir yang ditemui LJ.com (4/1/2013).

Berkenaan dengan itu, kami pun menelusuri ke beberapa tambang dan sempat menanyakan tentang kebijakan ini terhadap para sopir dumtruck pengangkut batu bara. Mereka mengeluh karena sangat sulit melakukan pengisian BBM jenis solar di SPBU yang ada di Jambi. Selain itu mereka harus bersitegang dengan petugas SPBU untuk menjelaskan bahwa mobil yang dia bawa bukan mobil perusahaan tetapi mobil pribadi miliknya dan hanya satu-satunya bahkan masih kredit, lalu kalau mereka tidak mengangkut batu-bara dari mana mereka akan membayar angsuran kendaraannya tersebut.

Salah seorang pemilik mobil menyayangkan kebijakan ini diberlakukan, karena hal tersebut akan mematikan para buruh tambang yang mengais rejeki dengan menjalankan kendaraan dumtrucknya untuk mengangkut hasil tambang.

Pantauan liputanjambi.com di beberapa SPBU di Provinsi Jambi, kebijakan ini telah diberlakukan secara menyeluruh. Namun, belum ada penjelasan yang intensif terhadap para pelaku usaha yang menggantungkan dirinya pada usaha perkebunan dan pertambangan. (tim)