Muaro Jambi- Liputan Jambi

                         Masyarakat Desa Suka Damai Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi menjadi resah akibat mendengar kabar upaya pengalihan status tanah hibah untuk Pondok Pesantren Ath Thohiriyyah menjadi tanah wakaf.Hal ini disampaikan beberapa tokoh   setempat yang merasakan kejanggalan dalam usaha-usaha yang  dinilai  penuh keanehan dan menimbulkan efek negatif serta menjadi isu yang menyesatkan bagi masyarakat umum khususnya masyarakat Desa Suka Damai.

                         Saryono adalah salah satu tokoh Desa Suka Damai yang menentang keras upaya pengalihan status tanah hibah menjadi tanah wakaf untuk ponpes tersebut.” Saya menentang keras upaya  pengalihan lahan hibah untuk Pondok Pesantren menjadi tanah wakaf yang tidak tentu dalam pengurusannya . Dan kalau ini dipaksanakan oleh si pemberi hibah yaitu H.Hasim, kami siap menempuh jalur hukum dalam menyelesaikan masalah ini .” Kata beliau .  “ Apalagi tanah yang sudah diberikannya ini sudah dibangun bangunan permanen yang saat ini sudah berjalan proses belajar mengajar ,sesuai visi dan misi Pondok Pesantren. Menurut saya apa yang tertuang dan tertulis dalam Surat Keterangan Hibah oleh H.Hasim Kepada Pak Kyai M.Thohar Tolabi yang diikrarkan setelah sholat Jum’at pada waktu itu dan diketahui Kepala Desa Suka Damai Rusmin yang juga ditanda-tangani beberapa perangkat desa dan tokoh Masyarakat sudah sah menurut hukum dan perundangan yang berlaku di Indonesia ,dan kalau ada orang yang meragukan keabsahan surat itu laporkan saja pada penegak hukum yang ada biar ditindak lanjuti. “ Lanjutnya yang diamini Sutardi,Suparno dan beberapa tokoh lainnya .

                        Dari Pantauan Liputan Jambi (Selasa,2 Juli) Polemik yang mencuat di Desa Suka Damai tersebut membuat Pemerintahan Desa Suka Damai dan Badan Permusyawaratan Desa mengadakan pertemuan dengan  memanggil H.Hasim sebagai Pemberi Hibah dan Kyai M.Thohar Tholabi Sebagai penerima hibah untuk memberikan penjelasan terkait masalah yang berkembang menjadi isu yang hangat di tengah masyarakat dengan di saksikan Kapolpos Aiptu Maryono dan beberapa Tokoh Masyarakat . Rapat yang dipimpin Kepala Desa Maryono mengetengahkan permasalahan Surat Keterangan Hibah menjadi wakaf diwarnai protes keras dari beberapa tokoh masyarakat Desa yang menolak segala upaya pengalihan surat tersebut . Mereka beranggapan  dan menilai Kepala Desa Tidak tegas dan plin plan dalam bersikap , kenapa surat yang sudah jelas disepakati bersama dipertanyakan lagi keabsahannya apalagi ini sudah mempunyai ketetapan hukum dipemerintahan Desa Suka Damai.

                           Kyai M.Thohar Tholabi mengatakan Surat Keterangan Hibah yang diterimanya sudah sesuai dengan tujuannya yaitu membangun Pondok Pesantren yang beberapa waktu lalu sudah diresmikan oleh Wakil Bupati Muaro Jambi dan dalam proses pembuatan dan disyahkan surat tersebut melibatkan  Kepala Desa,BPD, disetujui H.Hasim sebagai pemberi hibah dan disaksikan beberapa tokoh masyarakat desa .”Kalau ada wacana mau merobah kesepakatan yang tertuang dalam surat tersebut dari hibah menjadi wakaf jelas saya menolak. Mengapa hal ini sekarang baru di cuatkan ,setelah saya dan teman-teman serta di bantu masyarakat Desa Suka Damai  bahu membahu membangun Pondok Pesantren ini. Padahal dari awal sudah dijelaskan perihal hibah ini pada semua masyarakat Desa Suka Damai termasuk Pemberi Hibah ” Kata Kyai M.Thohar Tholabi.

                              Disisi lain H.Hasim si pemberi hibah Tetap Ngotot tetap akan merobah status Hibah menjadi wakaf. Ia mengatakan takut kalau dihibahkan tanah seluas 1 (satu) Hektar tersebut dijual oleh Kyai M.Thohar Tholabi dan keturunannya. “ Kalau pak Kyai tidak mau menerima status tanah tersebut menjadi wakaf silahkan pergi dari Pondok Pesantren tersebut , saya sudah ada pengganti untuk mengurus pondok pesantren dan segala yang ada disana .”Kata H.Hasim.” Intinya saya tetap ingin merobah Surat Keterangan Hibah tersebut menjadi Surat Keterangan Wakaf “

                                Ucapan dari H.Hasim langsung di respon peserta rapat dengan berbagai tanggapan . Mereka langsung menduga ada upaya-upaya yang kotor oleh pihak ketiga untuk memperkeruh keadaan  dengan memanfaatkan suasana. Salah satu peserta rapat Sutardi mengatakan “ Jelas ini ada kepentingan lain yang ingin mengobok-obok keutuhan Pondok Pesantren yang selama ini telah terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat. Pasti ada Dalang yang mengatur ini semua . Semoga Allah mengampuni dosa Dalang Tersebut yang memanfaatkan siapa-siapa saja yang menjadi kambing hitam dalam terlibat persoalan ini .” (hErY)