Kepolisian Indonesia masih menyelidiki peristiwa ledakan bom di pos polisi Poso yang menyebabkan dua orang terluka dan salah satunya petugas polisi.

Ledakan bom menyebabkan kerusakan pada kaca pos polisi tersebut. Dalam olah TKP, polisi menemukan bahan yang diduga merupakan material dalam kontainer dan sebuah hp yang diduga sebagai pengatur waktu bom yang meledak dua kali. Insiden ini terjadi di saat aparat masih disibukkan dengan penyelidikan kasus pembunuhan dua orang polisi Poso pekan lalu.

Dalam keterangan persnya, juru bicara Mabes polri, Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan belum menemukan pelaku peledakan bom di pos polisi dan belum menemukan keterkaitan antara dua peristiwa penyerangan terhadap aparat kepolisian tersebut.

“Kalau diduga terkait kita belum bisa jawab apakah ini terkait langsung, tetapi fakta yg terjadi seperti itu ada peristiwa pembunuhan terhadap petugas kepolisian ada pengamanan terhadap orang-orang yang diduga dicurigai dan justru orang pendatang yang bukan berasal dari Poso sendiri,” kata Boy. “Jadi ada pihak2 yg kita lihat ingin menimbulkan suasana kekacauan atau bentuk konflik baru di Poso yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari luar.”

Boy rafli mengatakan polisi akan bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan agama agar masyarakat tidak terpancing dengan situasi tersebut dan bekerja sama untuk mengindentifikasi sejumlah orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO antara lain Santoso yang masih dicari karena diduga terkait dengan beberapa peristiwa kekerasan di Poso.

“Khususnya masyarakat Poso kami berharap bisa bekerja sama untuk meredam situasi ini dan jangan sampai terprovokasi. Jadi kami berharap kita bisa kerjasama terutama bisa mengidentifikasi terhadap mereka yang kita duga sebagai pelaku dan mereka yang selama ini telah di identifikasi ya, terutama mereka yang masih DPO,” kata Boy.

Penangkapan

Sabtu lalu, Polda Sulawesi Tengah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang yang dicurigai terkait kasus pembunuhan itu.

Kepala Humas Polda Sulteng AKBP Sumarno mengatakan, mereka diperiksa karena membawa foto dua jenazah polisi korban pembunuhan serta dokumen terkait aktivitas jihad.

“Sehingga perlu pendalaman mengapa mereka membawa buku jihad dan foto dua jenazah polisi,” kata Kepala Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Sumarno, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Sabtu (20/10) sore, melalui telepon.

Meskipun demikian, kata Sumarno, dua orang ini sejauh ini belum dinyatakan sebagai tersangka.

Selain mengamankan dua orang, Polda Sulteng sempat memeriksa tiga orang lainnya, namun mereka akhirnya dilepaskan.

“Tetapi tiga orang lainnya sudah dilepas oleh Polres Poso,” ungkap Sumarno.

Jenazah kedua polisi ditemukan berada dalam sebuah lubang saat ditemukan, Selasa 16 Oktober sore, di Desa Tamanjeka, Kabupaten Poso.

Dua anggota polisi itu adalah Kepala Unit Intelijen Kepolisian Sektor Poso Pesisir, Brigadir Pol Sudirman, dan anggota tim buru sergap Kepolisian Resor Poso, Brigadir Satu Pol Andi Sapa.

Sejauh ini Polda Sulteng, menurut Sumarno, masih tetap menggelar razia di wilayah dusun Tamanjeka dan sekitarnya.

Operasi yang melibatkan TNI serta pasukan Densus 88 Mabes Polri ini, tambah Sumarno, untuk mempersempit gerakan orang-orang yang diduga terlibat kasus pembunuhan dua anggota polisi.

“Kita turun ke tempat kejadian perkara di Dusun Tamanjeka, yang wilayahnya berbukit, jurang dan banyak jalan tikus menuju desa lainnya,” kata Sumarno.(bbc.uk)