Toleransi antar umat beragama telah ditunjukkan amat erat oleh masyarakat Ambon yang majemuk. Perdamaian telah menjadi simbol internasional yang terpancar dari Kota Ambon, ditandai dengan Gong Perdamaian Dunia yang diresmikan pada peringatan Hari Perdamaian Dunia tahun 2009 hingga digelarnya MTQ Nasional XXIV Tahun 2012.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rasa syukurnya, karena dalam rentang waktu yang amat panjang, Indonesia telah menjadi pelabuhan peradaban, baik itu barat, timur maupun Islam. “Saat ini, negara kita telah menjadi perhatian dunia dimana Islam, demokrasi dan modernitas dinilai dapat hidup seiring dan sejalan.

Di mata dunia, Indonesia mampu menjaga persatuan dan harmoni di tengah keragaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika telah memberi sumbangan yang amat berharga dalam membangun tatanan peradaban yang baru,” Presiden dalam sambutannya pada Pembukaan MTQ Tingkat Nasional XXIV di Ambon, Jumat (8/6) malam.

Presiden menilai tema Dengan MTQ Nasional XXIV Tahun 2012, Kita Tingkatkan Kualitas Kehidupan Beragama Indonesia sejalan dengan upaya bersama untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan beragama, sekaligus kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sejalan dengan tema MTQ Nasional, maka peningkatan kualitas kehidupan beragama di tanah air kita menjadi sangat penting,” kata Presiden. Dengan kualitas kehidupan beragama yang baik, ujar Presiden, dapat mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab. Selain itu, juga dapat memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui nilai-nilai keagamaan, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan antar umat beragama, serta menerapkan nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai universal ajaran agama. “Kita ingin mewujudkan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang juga ditopang oleh nilai-nilai universal Islam sebagaimana nilai-nilai agama yang hakiki utamanya nilai-nilai kesolehan sosial, solidaritas dan toleransi. Kita ingin memperkokoh nilai-nilai universal itu sebagai landasan dalam mewujudkan negara kita sebagai mode dari semangat toleransi di kalangam umat beragama,” paparnya. Sebagaimana yang diimani bersama, lanjut Presiden, Al Quran diturunkan sebagai petunjuk dan tuntunan kehidupan bagi umat manusia untuk memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Kitab suci Al Quran tidak hanya berisi prinsip-prinsip keimanan, tetapi juga bernilai universal, ilmu pengetahuan, juga hikayat kehidupan yang dikemas dengan bahasa yang indah.

Al Quran telah memberi tuntunan kepada umat manusia di muka bumi ini untuk membangun kehidupan yang harmonis, menjaga toleransi dan hidup dalam damai. Al Quran mengajarkan umat manusia untuk saling mengenali, saling mengasihi, saling memberi maaf dan tidak saling membenci. Al Quran mengajak manusia untuk bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan bukan dalam kejahatan dan permusuhan. “Pemahaman akan arti dan makna Al Quran secara lengkap dan utuh menjadikan kita semua kaum muslimin dan muslimah dapat menjalani kehidupan di dunia sesuai dengan tuntunan Islam. Kita akan lebih mencintai sesama umat manusia, kita dapat membawa kehidupan yang rukun dan damai serta kita pun dapat menjauhi segala bentuk permusuhan dan ketidakadilan,” urai Presiden. Bangsa yang tidak mampu meningkatkan kualitas kehidupannya dan tidak berazaskan ahlak yang luhur dan mulia, pada umumnya akan hancur dan tenggelam dalam sejarah kelam peradaban.

Oleh karena itu, semua berkewajiban untuk memupuk karakter, akhlak dan moral bangsa yang luhur dan mulia agar dapat mengukir sejarah peradaban yang luhur dan mulia. “Dengan karakter akhlak dan moral bangsa yang luhur mulia, Insya Allah kita akan dapat memperkokoh persatuan, kebersamaan dan kerukunan baik itu diantara sesama warga bangsa, diantara pemimpin dan rakyatnya maupun diantara ulama dan umaroh. Dengan karakter kebangsaan yang kuat pula Insya Allah kita dapat mensukseskan seluruh agenda pembangunan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh tanah air,” kata Presiden. Sebelum memberikat sambutan, Presiden sempat menjelaskan keterlambatannya ke Kota Ambon, kota yang menjadi pusat perkembangan peradaban dan pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia.
SBY dan rombongan bertolak dari Halim Perdana Kusumah, Jakarta, pada pukul 08.00 WIB dengan udara yang cerah. “Begitu terbang melintasi Makassar dan menuju ke Ambon, ternyata cuaca pada saat itu sangat buruk dan pesawat tidak bisa mendarat di Ambon. Oleh karena itu pesawat kami balik arah menuju ke Makassar selama dua jam.

Setelah itu ada informasi cuaca sudah membaik dan kami berangkat kembali ke Ambon. Berkat doa semua, walau dengan cuaca yang buruk, akhirnya kami bisa mendarat di Ambon,” jelasnya. SBY juga terkesan dengan pernyataan Gubernur Maluku bahwa persiapan penyelenggaraan MTQ dipersiapkan bukan hanya umat Islam di Ambon tetapi juga bersama umat beragama lainnya yang ada di Ambon. “Saya bersyukur, terharu, teduh dan mohon kepada Allah SWT semoga niat baik saudara-saudara kita di tanah Ambon mendapatkan ridhonya,” katanya.

sumber infopublik